Sunday, October 16, 2011

Shocktober at La Piazza

Stasiun Deos, nama stasiun yang dipilih sama La Piazza buat jadi nama tempat uji adrenali kita. Gue, kepin, deren, ryan, mario sama paris adalah calon penjelajah dunia mistik penuh misteri itu. Suasana ruang serba guna La Piazza kelapa gading seakan berubah derastis menjadi stasiun angker penuh sosok-sosok gaib yang mendiami tempat itu. Kita yang dasarnya bukan pemberani, alias penakut, mencoba menikmati keadaan didalam sana yang konon katanya sungguh menyeramkan.


Langkah demi langkah kita lalui menuju sosok wanita berambut panjang yang duduk diujung sana. Dia adalah wanita penjaga loket yang bertugas menjual tiket masuk. Kerumunan orang banyak menghalangi langkah kita
menggapai wanita itu. Kita harus berdesak ria dalam proses membeli tiketnya. Dengan pengorbanan yang cukup mengeluarkan tenaga, akhirnya deren memperoleh 3 tiket untuk masuk ruang serba guna atau stasiun angker itu. 3 tiket = Rp 75.000,00 = 6 orang. Kita patungan satu sama lain. Udah kelar dalam membeli tiket, kita coba antri untuk masuk kedalam ruang gelap itu.

Antrian yang cukup padat, membuat kesabaran kita teruji. Suara-suara aneh muncul dari dalam ruangan itu, ditambah bau menyan yang dibuat untuk menambah kesan mistik. Kita tambah dibuat takut, posisi badan kita tidak karuan (maksud). Terlihat disamping gue ada sepasang sejoli yang sedang berpeluk erat. Kesempatan bagi sang cowok dalam kesempitan bagi sang cewek. Cewek yang dipeluk erat itu berkata "yang aku takut nih...". "Udah tenang aja, ada aku kok disini" jawab sang cowok yang dari tadi gue liat, mukanya jauh lebih pucat dari sang cewek.

Hal-hal aneh terjadi dalam kerumunan antrian masuk yang tidak karuan. Sosok pria muda yang memiliki raut muka tiada tampan mencoba mencari perhatian dengan berteriak mengeluarkan lelucon. Gue ga ketawa. Kita ga ketawa. Semua tidak ketawa. Leluconnya seakan terkalahkan dengan kegelisahan kita saat detik-detik mau masuk rumah hantu itu. Kita semua memang takut, tapi kita semua penasaran untuk masuk kedalam sana.


Jam seakan berputar cepat. Tak terasa gue dan kawan-kawan udah sampai di pintu masuk rumah hantu. Kita makin tegang. Ketegangan ditambah saat beberapa cewek keluar lagi sambil berteriak "gak berani, gak berani ihhh, nyerah !...". "anjir kayanya ngeri banget ya, tuh orang aje keluar lagi ga berani" tanggapan kita serentak. Gue panik, temen-temen panik. "Kayanya rumah hantu kali ini lebih seram daripada rumah hantu-rumah hantu sebelumnya" pikir gue dalam hati. Gue sama temen-temen udah tiga kali dateng ke lapiz untuk sekedar kerumah hantu. Walau demikian, perasaan takut masih menghantui kita saat ingin masuk. Pikiran negatif bercampur aduk. Dalam kesepian pikiran didalam keramaian situasi (maksud lagi) teringat kembali cumbuan mesra Taylor Lautner dengan Lilly Collins didalam kereta api dalam film yang tadi kita tonton, Abduction. Pikiran itu seketika lenyap, bagaikan asap tertiup angin. Penjaga rumah hantu itu segera menyuruh kita untuk masuk. Kita berenam pun masuk bersama dua orang lainnya, cowo dan cewenya.

Langkah pertama didalam ruangan yang gelap itu harus kita lakukan. Gue berdiri dibelakang cowo dan cewe yang tadi ikut rombongan kita masuk. Suasana persis bagai gerbong kereta yang gelap. Langkah demi langkah kita lakukan. Disitu gue udah liat ada sosok setan berambut panjang duduk diam disalah satu tempat duduk. Gue pikir itu boneka yang didandani, tetapi sesaat gue dekati, dia meraung menakuti. gue dikagetkannya. Gue sempat menarik-narik baju cowo yang didepan gue itu karena ketakutan. Cewenya marah, entah kenapa dia marah. Gue pun lanjut jalan. Gue liat juga ada sosok pocong, kuntilanak dan lain-lain. Semua sama, pertama diam dan saat didekati meraung menakuti. keadaan udah bisa gue baca, sampai pintu keluar gue jalan santai. "Sial ! ternyata dalamnya ga serem-serem banget, awalnya doang merinding, pas masuk ga serem !" kalimat yang kita lontarkan setelah keluar dari tempat itu.