Friday, December 16, 2011

Pemadam Kebakaran VS Tukang Asuransi Jiwa

Suatu ketika, nyokap gue pernah bergurau dengan memberi gue pertanyaan tebak-tebakan singkat. "Siapa orang yang memiliki pekerjaan paling mulia, hayo?" tanyanya dengan canda.
Karena gue bingung, terus gue jawab aja dengan apa yang ada diotak gue "PENDETA!" tegas gue. "Salah!" kata nyokap gue. "ehmm.. DOKTER!" kembali gue mencoba nebak. "salah!" kata nyokap gue lagi. Setelah beberapa tebakan dari gue hanya di jawab salah sama nyokap gue, akhirnya gue bilang kalo gue nyerah. Dia pun ngasih tau jawaban sebenarnya "Tukang Asuransi jiwa dong" katanya lalu tertawa. "Lah kok tukang asuransi jiwa mah?" tanya gue bingung. "Iyalah. Kan kalo tukang asuransi jiwa, dia selalu berdoa supaya clientnya engga cepat-cepat meninggal. Kalo cepat-cepat meninggal kan ntar dia rugi hahaha.." Jelasnya sambil tertawa. "hahaha mama bisa aja" gue pun tertawa denganya jawaban nyokap.


salah satu perusahaan paling mulia

"Sekarang kebalikannya, siapa orang yang memiliki pekerjaan paling berdosa, hayo tebak?" tanyanya lagi. Kali ini gue ga mau kalah. Gue mikir lama penuh penghayatan, terus gue jawab dengan lantang. "PENCURI!" tegas gue. "Salah" kembali nyokap gue mengulang kata itu untuk kesekian kalinya. Sampai akhirnya untuk kedua kalinya juga gue menyerah. "nyerah ma, apa emangnya?" tanya gue. "Pemadam kebakaran dong" jawabnya. "kenapa bisa pemadam kebakaran?" gue bingung. "iya dong. soalnya kan kalau pemadam kebakaran, dia berdoa supaya setiap hari ada rumah yang kebakaran. Biar dia dikasih duit plus mulu dari bosnya hahaha.." "yahh, mama bisa aja hahaha..." gue tertawa lagi.


                                         pemadam kebakaran yg makan gaji buta

Sebenarnya 2 pertanyaan itu cuma tebak-tebakan buat lucu-lucuan doang. Tapi yang bisa gue ambil dari tebak-tebakan itu ialah, kalau setiap pekerjaan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan sendiri. Dari kalimat itu, gue mulai mencoba untuk menatap masa depan. Masa depan yang masih berbentuk sebuah tanda tanya. Apakah gue bakal menjadi pekerja yang mulia? atau menjadi pekerja yang berdosa?. Apakah nanti pekerjaan yang gue kerjakan halal? atau nanti pekerjaan yang gue kerjakan haram?


Karena itulah sekarang gue menanamkan suatu prinsip dalam hidup gue. Kalau gue kelak harus jadi seorang yang memiliki pekerjaan yang mulia. Yang bekerja engga semata-mata hanya mengejar yang namanya uang, tanpa melihat kebelakang atau kesamping. Dan gue berharap, suatu saat gue bisa bilang ke nyokap gue "mah, andry sekarang kerjaannya kaya kerjaannya Tukang Asuransi Jiwa lho!". Pasti bakal sesuatu banget.


Dan kenapa gue ga berharap suatu hari mau bilang ke nyokap gue "mah, andry sekarang kerjaannya Tukang Asuransi Jiwa lho"?. Kenapa hayo? 


Jawabannya simpel. Karena jadi Tukang Asuransi Jiwa bukanlah salah satu dari cita-cita gue :D