Thursday, January 5, 2012

Pertanyaan Ini Sebenarnya Tidak Perlu Dipertanyakan

Dalam kehidupan pasti kita tidak pernah luput dari segala macam pertanyaan yang mengahantui kita. Mulai dari pertanyaan yang paling simpel sampai pertanyaan yang paling rumit. Terkadang pertanyaan-pertanyaan yang datang ke otak kita membuat kita semakin penasaran dan berusaha buat cari jawabannya. Tetapi, gue sering kepikiran dengan pertanyaan-pertanyaan konyol dan engga guna yang gue cipatain secara tidak sadar.




Suatu ketika gue mendapatkan pertanyaan yang muncul dengan sendirinya dari otak gue saat gue lagi makan sendirian dirumah makan sederhana di Pasar Senen. Pertanyaan yang gue anggap berlebihan banget yang entah kenapa tiba-tiba muncul diotak gue. Begini pertanyaan itu: Seandainya lo menjadi seorang pemilik rumah makan atau restoran sederhana yang engga terlalu besar. Suatu hari yang sepi, engga ada pelanggan satupun yang datang hingga hari sudah hampir larut (emang apes banget ceritanya). Hampir restorannya udah hampir ditutup, ada seorang bapak datang untuk makan. Terus dia mesen sampai semuanya mengeluarkan 150 ribu. Pas lagi mau bayar, ternyata dompet si bapak ketinggalan dirumah dan dia engga bawa duit sama sekali.

Si bapak bilang kalau dia cuma bawa 2 lembar voucher belanja yang masing-masing bernilai 100 ribu untuk belanja di supermarket 24 jam didaerah menteng. Katanya "mas, saya cuma bawa 2 lembar voucher 100 ribu, bagaimana kalau ini sebagai jaminannya. Sementara saya pulang dan mengambil dompet saya dan saya akan tebus semua makanan ini. Tapi voucher itu jangan dibelanjakan ya..". "Oke pak, saya tunggu" jawab lo saat itu.

Lo tunggu dengan tenang sambil beraharap ada pelanggan yang datang lagi. Pas lo duduk-duduk sambil menunggu, lo baca voucher belanja yang tadi buat jaminan itu. Ternyata masa berlakunya sampai tanggal 6 Januari dan lo baca itu voucher tepat jam 11.30 tanggal 6 Januari. *jeng-jeng-jeng* *dilanjuti musik sinetron*. Sementara untuk menuju supermarket itu dari tempat lo membutuhkan waktu 25 menit. Dilema pun muncul.

Pertanyaannya, apa yang harus lo lakuin saat itu? Apa lo segera bergegas menuju supermarket dan menukarkan semua voucher belanja itu? Atau lo tetap nunggu bapak itu datang untuk melunasi semua makanan itu?. Kalau misalnya bapak itu benar-benar tidak kembali, berarti lo benar untuk memilih segera menukarkan voucher belanja itu karena masa berlakunya tinggal 30 menit lagi. Tapi kalo bapak itu benar-benar kembali, berarti lo salah bila menukarkan voucher itu dan lo bisa dituntut oleh bapak itu.

Ini adalah sebuah dilema antara kerugian dan keberuntungan. Lo beruntung kalo bapak itu engga kembali, karena lo bisa menukarkan voucher belanja yang berharga 200 ribu sedangkan harga makanan itu hanya 150 ribu. Tetapi lo bakal rugi kalo lo tungguin dan berharap bapak itu kembali lebih dari 5 menit aja dan hasilnya bapak itu tidak kembali. Lo bakal rugi 150 ribu kalo itu terjadi.

Pertanyaan berikutnya yang muncul ialah: kenapa gue sampai kepikiran menjadi pemilik rumah makan yang mendapatkan kondisi seperti itu. lalu ada hening yang panjang.

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih absurd yang Raditya Dika pikirkan dan dia tulis disalah satu chapter dalam buku terbarunya, Manusia Setengah Salmon. Salah satu pertanyaan itu seperti ini: Ketika orang menulis 'wkwkwkwkwk' apakah dibacanya wekewekewek atau wekawekaweka?. Sampai sekarang pertanyaan itu belom bisa gue jawab juga.

                                 Buku terbaru Raditya Dika yang cukup menghibur

Gue berhenti berpikir sebelum mendapatkan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang tambah buat gue engga karuan. And the last, seperti tulisan yang ada di paling atas disoal-soal ulangan umum yang sering kita dapati saat ulangan (munkin gue doang kali yah yang sempet-sempetnya baca itu tulisan) yang bunyinya kira-kira seperti ini: 'Jawablah pertanyaan-pertanyaan dengan jawaban yang dianggap paling benar'. Dan gue mau nambahin beberapa kata biar kalimat itu menjadi seperti ini:

Jawablah pertayaan-pertanyaan 'yang benar' dengan jawaban yang paling benar. Karena kalau pertanyaannya udah engga benar, maka jangan jawab pertanyaan itu.